Assalamu'alaikum wr. wb.
kali ini ane melihat sebuah postingan dan meminta izin untuk copas dari pemiliknya
kali ini ane melihat sebuah postingan dan meminta izin untuk copas dari pemiliknya
silahkan cekidot....
1.) Aqidah
Aqidah menurut bahasa berarti simpul,
ikatan, perjanjian dan kokoh, sedangkan menurut istilah, aqidah berarti keyakinan
teguh yang tidak tercampur keraguan dengan sesuatu apapun. Rasulullah saw
diutus oleh Allah Swt untuk membawa ajaran tauhid yang pada saat itu di Mekkah
penduduknya masih hidup dalam praktik kemusyrikan. Rasullullah SAW mengajarkan
bahwa Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu, sedangkan manusia lemah tak
berdaya. Ia Mahaagung (Mulia) sedangkan manusia rendah dan hina. Selain Maha
Pencipta dan Mahakuasa, Ia pelihara seluruh makhluk-Nya dan Ia sediakan seluruh
kebutuhannya, termasuk manusia. Selanjutnya, Nabi Muhammad saw. juga
mengajarkan bahwa Allah Swt. itu Maha Mengetahui. Allah Swt. mengajarkan
manusia berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak diketahuinya dan cara
memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut. Ajaran keimanan ini, yang
merupakan ajaran utama yang diembankan. Ajaran tauhid ini berbekas sangat dalam
di hati Nabi dan para pengikutnya sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat,
mapan, dan tak tergoyahkan. Dengan keyakinan ini, para sahabat sangat percaya
bahwa Allah Swt. tidak akan membiarkan mereka dalam kesulitan dan penderitaan.
Dengan keyakinan ini pula, mereka percaya bahwa Allah Swt. akan memberikan
kebahagiaan hidup kepada mereka. Dengan keyakinan ini pula, para sahabat
terbebas dari pengaruh kekayaan dan kesenangan duniawi. Dengan keyakinan ini
pula, para sahabat mampu bersabar dan bertahan serta tetap berpegang teguh pada
agama ketika mereka mendapatkan tantangan dan siksaan yang amat keji dari
pemuka-pemuka Quraisy.
2.) Akhlak Mulia
Dalam hal akhlak, Nabi Muhammad saw. tampil
sebagai teladan yang baik (ideal). Sejak sebelum menjadi nabi, ia telah tampil
sebagai sosok yang jujur sehingga diberi gelar oleh masyarakatnya sebagai al-amin selain
itu Nabi Muhammad juga dikenal sebagai sosok yang suka menolong dan meringankan
beban orang lain. Akhlak Rasullullah SAW itulah yang diajarkan beliau.
Adapun Strategi yang digunakan Rasullallh SAW
dalam menyebarkan agama Islam tidak terlalu tergesa-gesa dan terlalu memaksa,
Beliau lebih memilih menggunakan cara damai dan baik-baik. Ketika berdakwah di
Mekkah, Nabi mengalami dua tahapan yang dimulai dengan secara diam-diam lalu
secara terang-terangan.
Agar tidak menimbulkan keresahan dan kekacauan
di kalangan masyarakat, Rasullullah memulai dakwah secara diam-diam. Hal
tersebur mengingat kerasnya watak kaum Quraisy dan keteguhan mereka berpegang
pada keyakinan dala menyembah berhala.
Setelah merasa sudah saatnya, Nabi pun mulai
berdakwah secara terang-terangan. Ia mulai dengan berdiri di atas sebuah bukit
dan berteriak dengan suara lantang memanggil mereka, Kemudian, ia berpaling
kepada sekumpulan orang sambil berkata, “Wahai orang-orang! Akankah kalian percaya jika saya katakan bahwa musuh Anda sekalian telah bersiaga di sebelah bukit (Śafa) ini dan berniat menyerang nyawa dan harta kalian?” Mereka menjawab, “Kami tak mendengar Anda berbohong sepanjang hayat kami.” Ia lalu berkata, “Wahai bangsa Qurasy! Selamatkanlah dirimu dari neraka. Saya tak dapat menolong Anda di hadapan Allah Swt. Saya peringatkan Anda sekalian akan siksaan yang pedih!” Ia menambahkan, “Kedudukan saya seperti penjaga, yang mengamati musuh dari jauh dan segera berlari kepada kaumnya untuk menyelamatkan dan memperingatkan mereka tentang bahaya yang akan datang.”.
kepada sekumpulan orang sambil berkata, “Wahai orang-orang! Akankah kalian percaya jika saya katakan bahwa musuh Anda sekalian telah bersiaga di sebelah bukit (Śafa) ini dan berniat menyerang nyawa dan harta kalian?” Mereka menjawab, “Kami tak mendengar Anda berbohong sepanjang hayat kami.” Ia lalu berkata, “Wahai bangsa Qurasy! Selamatkanlah dirimu dari neraka. Saya tak dapat menolong Anda di hadapan Allah Swt. Saya peringatkan Anda sekalian akan siksaan yang pedih!” Ia menambahkan, “Kedudukan saya seperti penjaga, yang mengamati musuh dari jauh dan segera berlari kepada kaumnya untuk menyelamatkan dan memperingatkan mereka tentang bahaya yang akan datang.”.
Setelah berdakwah cukup lama di Mekkah
Rasullullah SAW tetap mendapat banyak penolakan dari masyarakat Mekkah. hal itu
membuat Nabi Muhammad berdakwah kepada kabilah-kabilah Arab di luar suku
Quraisy. Dalam melakukan dakwah ini, Nabi Muhammad saw. tidak saja menemui
mereka di Ka’bah pada saat musim haji, ia juga mendatangi perkampungan dan
tempat tinggal para kepala suku. Tanpa diketahui oleh seorang pun, Nabi
Muhammad saw. pergi ke Taif. Di sana ia menemui ¢aqif dengan harapan agar ia
dan masyarakatnya mau menerimanya dan memeluk Islam. Saqif dan masyarakatnya
menolak Nabi dengan kejam. Meski demikian Nabi berlapang dada dan meminta Saqif
untuk tidak menceritakan kedatangannya ke Taif agar ia tidak mendapat malu dari
orang Quraisy. Permintaan itu tidak dihiraukan oleh Saqif, bahkan ia
menghasut masyarakatnya untuk mengejek, menyoraki, mengusir, dan melempari
Nabi. Selain itu Nabi mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani
Amir bin Sa‘sa’ah ke rumah-rumah mereka. Tak seorang pun dari mereka yang mau
menyambut dan mendengar dakwah Nabi. Bahkan, Bani Hanifah menolak dengan cara
yang sangat buruk. Amir menunjukkan ambisinya, ia mau menerima ajakan Nabi
dengan syarat jika Nabi memperoleh kemenangan, kekuasaan harus berada di
tangannya.
Pengalaman tersebut mendorong Nabi
Muhammad saw. berkesimpulan bahwa tidak mungkin lagi mendapat dukungan dari
Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Karena itu, Nabi Muhammad saw.
mengalihkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah lain yang ada di sekitar Mekah
yang datang berziarah setiap tahun ke Mekah. Jika musim ziarah tiba, Nabi
Muhammad saw. pun mendatangi kabilah-kabilah itu dan mengajak mereka untuk
memeluk Islam. Tak berapa lama kemudian, tanda-tanda kemenangan datang dari
Yasrib (Madinah). Nabi Muhammad saw. sesungguhnya punya hubungan emosional
dengan Ya¡rib. Di sanalah ayahnya dimakamkan, di sana pula terdapat
famili-familinya dari Bani Najjar. Yasrib merupakan kota yang
dihuni oleh orang Yahudi dan Arab dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku ini
selalu berperang merebut kekuasaan. Hubungan Aus dan Khazraj dengan Yahudi
membuat mereka memiliki pengetahuan tentang agama samawi. Inilah salah satu
faktor yang menyebabkan kedua suku Arab tersebut lebih mudah menerima kehadiran
Nabi Muhammad saw. Ketika Yahudi mengalami kekalahan, suku Aus dan Khazraj
menjadi penguasa di Yasrib. Yahudi tidak tinggal diam, mereka berusaha mengadu
domba Aus dan Khazraj yang akhirnya menimbulkan perang saudara yang dimenangkan
oleh Aus. Sejak saat itu, orang-orang Yahudi yang sebelumnya terusir dapat
kembali tinggal di Yasrib. Aus dan Khazraj menyadari derita dan kerugian yang mereka
alami akibat permusuhan mereka. Oleh karena itu, mereka sepakat mengangkat
Abdullah bin Muhammad dari suku Khazraj sebagai pemimpin. Namun, hal itu tidak
terlaksana disebabkan beberapa orang Khazraj pergi ke Mekah pada musim ziarah
(haji).
Kedatangan orang-orang Khazraj ke
Mekkah di ketahui oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau pun pergi untuk bertemu dengan
mereka untuk mengajak mereka memeluk Islam, dan mereka pun menerima ajakan
tersebut dengan baik. Selanjutnya, Nabi menugaskan Mus’ab bin Umair untuk
membacakan al- Qurān, mengajarkan Islam serta seluk-beluk agama Islam kepada
penduduk Yasrib. Sejak itu, Mus’ab tinggal di Yasrib. Jika musim ziarah tiba,
ia berangkat ke Mekah dan menemui Nabi Muhammad saw. Dalam pertemuan itu,
Mus’ab menceritakan perkembangan masyarakat muslim Ya¡rib yang tangguh dan
kuat. Berita ini sungguh menggembirakan Nabi dan menimbulkan keinginan dalam
hati Nabi untuk hijrah ke sana.
Pada tahun 622 M, peziarah Ya¡rib yang datang
ke Mekah berjumlah 75 orang, dua orang di antaranya perempuan. Kesempatan ini
digunakan Nabi melakukan pertemuan rahasia dengan para pemimpin mereka.
Pertemuan Nabi dengan para pemimpin Yasrib yang berziarah ke Mekah disepakati
di Aqabah pada tengah malam pada hari-hari Tasyriq (tidak sama dengan hari
Tasyriq yang sekarang). Malam itu, Nabi Muhammad saw. ditemani oleh pamannya,
Abbas bin Abdul Mutalib (yang masih memeluk agama nenek moyangnya) menemui
orang-orang Yasrib. Pertemuan malam itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai
Perjanjian Aqabah II. Pada malam itu, mereka berikrar kepada Nabi sebagai
berikut, “Kami berikrar, bahwa kami sudah mendengar dan setia di waktu suka dan
duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana
saja kami berada, dan di jalan Allah Swt. ini kami tidak gentar terhadap ejekan
dan celaan siapapun”.
Peristiwa Hijrah Kaum Muslimin
1.) Hijrah ke Abisinia (Habsyi)
Untuk menghindari bahaya penyiksaan, Nabi
Muhammad saw. menyarankan para pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia (Habsyi).
Para sahabat pergi ke Abisinia dengan dua kali hijrah. Hijrah pertama sebanyak
15 orang; sebelas orang laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka berangkat
secara sembunyi-sembunyi dan sesampainya di sana, mereka mendapatkan
perlindungan yang baik dari Najasyi (sebutan untuk Raja Abisinia). Ketika
mendengar keadaan Mekah telah aman, mereka pun kembali lagi. Namun, mereka
kembali mendapatkan siksaan melebihi dari sebelumnya. Karena itu, mereka
kembali hijrah untuk yang kedua kalinya ke Abisinia (tahun kelima dari kenabian
atau tahun 615 M). Kali ini mereka berangkat sebanyak 80 orang laki- laki,
dipimpin oleh Ja’far bin Abi Talib. Mereka tinggal di sana hingga sesudah Nabi
hijrah ke Yasrib (Madinah). Peristiwa hijrah ke Abisinia ini dipandang sebagai
hijrah pertama dalam Islam.
2. Hijrah ke Madinah
Peristiwa Ikrar Aqabah II ini diketahui
oleh orang-orang Quraisy. Sejak itu tekanan, intimidasi, dan siksaan terhadap
kaum muslimin makin meningkat. Kenyataaan ini mendorong Nabi segera
memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Yasrib. Dalam waktu dua bulan
saja, hampir semua kaum muslimin, sekitar 150 orang telah berangkat ke Yasrib.
Hanya Abu bakar dan Ali yang masih menjaga dan membela Nabi di Mekah. Akhirnya,
Nabi pun hijrah setelah mendengar rencana Quraisy yang ingin membunuhnya.
Nabi Muhammad saw. dengan ditemani oleh
Abu Bakar berhijrah ke Yasrib. Sesampai di Quba, 5 km dari Yasrib, Nabi
beristirahat dan tinggal di sana selama beberapa hari. Nabi menginap di rumah
Umi Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun sebuah masjid.
Inilah masjid pertama yang dibangun pada masa Islam yang kemudian dikenal
dengan Masjid Quba. Tak lama kemudian, Ali datang menyusul setelah
menyelesaikan amanah yang diserahkan Nabi kepadanya pada saat berangkat hijrah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sumber : azalec.blogspot.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar